Kibarkan sejarah kemanusiaan

Tag

,

Sejarah merupakan maklumat peristiwa masa silam yang dikumpulkan secara sistematik. Kajian sejarah pula merujuk kepada catatan individu,keluarga dan masyarakat. Pengetahuan sejarah merangkum pengetahuan tentang peristiwa masa silam, dan kemahiran berfikir sejarah. Belakangan ini, sejarah sering diklasifikasikan sebagai sains sosial, asing daripada kemanusiaan.

Lewat blog sejarah kemanusiaan, kita kembalikan sejarah pada aktor pelakunya sendiri. Manusia.

Holocaust di Mata Korban

Tag

(Diary of Anne Frank [14 Juni 1942 – 1 Agustus 1944], Amsterdam 1947)

Anne Frankhttps://i1.wp.com/www.holocaustresearchproject.org/nazioccupation/images/Anne%20Frank.jpg adalah seorang anak perempuan keturunan Yahudi yang hidup dan terbunuh selama Holocaust. Keluarga Frank menyembunyikan diri dari pihak Nazi selama dua tahun di gudang rahasia di belakang sebuah pabrik. Selama waktu itulah Anne menuliskan catatan hariannya. Dalam catatan hariannya ia tidak saja menyaksikan berbagai kebiadaban/kekejaman, namun juga problem sehari-hari sebagai seorang remaja. Lima puluh tahun semenjak penerbitan buku Diary of Anne Frank, catatan harian ini telah menjadi memoir yang paling terkenal di dunia tentang Holocaust.
Baca lebih lanjut

Yang Egois dan Yang Altruis

Tag

,

“Ini kursinya Wawan,” ujar Ibu Sumarsih sembari menyiapkan satu kursi di meja makan. “Walaupun Wawan sudah tiada, kami selalu menyediakan piring lengkap dengan sendok dan garpu beserta gelasnya di meja makan ini. Tiap sarapan dan makan malam, kami selalu menyiapkan piring seperti tadi. Ketika kami pergi bekerja pun, piring hanya kami telungkupkan. Siapa tahu, Wawan pulang ke rumah dan ingin makan… Jadi, Ia tinggal menggunakan piring yang tersedia lalu mengambil nasi serta lauk dan sayur yang tersedia di meja makan ini,” demikian tutur Ibu Sumarsih sembari makan malam bersama dengan suaminya, Arief Priyadi, dan putri bungsunya, Benedicta Raosalia Irma Normaningsih seperti yang terlihat dalam video “9808 Antologi 10 Tahun Reformasi” karya  dari Prima Rusdi, Edwin dan Hafiz di tahun 2008.

Terhitung sudah lebih dari sepuluh tahun sejak peristiwa berdarah Semanggi I itu terjadi. Keluarga Wawan atau Bernardus Realino Norma Irawan masih memperjuangkan keadilan. Sumarsih beserta keluarga dan beberapa kelompok terkait memperjuangkan bersama perubahan manusia Indonesia. Baca lebih lanjut

Sebuah Catatan Perenungan Tragedi Talangsari 1989

Tag

,

“Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir.

Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biarpun dia itu sarjana.” (Pramoedya Ananta Toer)

Subuh telah sampai, ketika aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan menyisipkan badanku di bawah selimut. Semalaman ini aku menginap di selasar Lantai 2 salah satu gedung di Wisma Hijau, Cimanggis tempat aku mengikuti Lokalatih Penulisan Esai “Kekerasan, Perdamaian dan Keindonesiaan”. Sepanjang malam, aku mengerahkan seluruh konsentrasiku untuk menyelesaikan satu esai mengenai Tragedi Talangsari. Baca lebih lanjut

PERISTIWA ABEPURA: Pertanyaan bagi Keindonesiaan

Tag

,

Kalau anda berada di Jakarta dan kebetulan melewati Lapangan Banteng, anda pasti akan menemukan sebuah patung orang yang  berdiri tegak dengan kedua tangan terangkat ke atas. Di kedua tangan dan kaki patung yang terbuat dari perunggu dengan berat 8 ton ini terdapat belenggu yang telah diputuskan.  Tinggi patung pria yang bertelanjang dada ini 9 meter dari kaki sampai kepala, dan tinggi keseluruhan sampai ujung tangan kurang lebih 11 meter. Dan bila dihitung dari landasan bawah, Patung yang arsiteknya adalah Silaban ini tingginya 25 meter.

Ide pembuatan patung yang dilaksanakan oleh tim pematung dari Keluarga Arca Yogyakarta ini datang dari Bung Karno. Saat itu, tahun 1962, Irian Barat merupakan satu-satunya wilayah di nusantara yang masih dikuasai oleh Belanda setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Berbagai usaha dilakukan untuk mengusir Belanda yang terkesan mencoba mengulur-ulur waktu dengan menjanjikan untuk melepas Papua selambat-lambatnya pada tahun 1970. Baca lebih lanjut

Genjer-Genjer dan Amnesia Indonesia

Tag

,

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih/ Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih // Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ didjejer-djejer diunting pada didasar/ didjejer-djejer diunting pada didasar/emake djebeng tuku gendjer wadahi etas/ gendjer-gendjer saiki arep diolah//

 14 Maret 2009 Tempo memberitakan puluhan lelaki bercadar dan berseragam ala militer mendatangi sebuah stasiun radio di Surakarta, Jawa Tengah. Kelompok yang menamakan diri Corp Hizbullah divisi Sunan Bonang itu menuntut pemiliknya minta maaf pada masyarakat, terutama umat Islam karena memutar lagu Genjer-genjer dalam sebuah kuis. Mereka menilai radio tersebut sengaja memutar agar semangat komunisme kembali muncul karena itu lagu PKI. Baca lebih lanjut

Refleksi Kaum Muda di Selatan Jakarta

Tag

,

Aku masih ingat betul ketika pertama kali menjejakkan kaki di sebuah kampus yang berdiri kokoh di bilangan Sudirman. Saat itu yang ada di pikiranku hanya kuliah serius, mencari teman, dan bersenang-senang. Maklum, biaya kuliah di universitas swasta cukup memeras pikiran dan tenaga kedua orang tuaku. Aku diwanti-wanti untuk lulus tepat waktu, jadi sarjana, lalu bekerja. Namun, siapa sangka, sebuah tragedi mengubah semua rencana dan cara pandangku pada sebuah realita.

Tahun pertama kuliah, aku memutuskan untuk ikut bergabung dengan teman-teman FAMSI (Front Aksi Mahasiswa Semanggi), yang saat itu berfokus pada usaha-usaha penuntasan kasus Tragedi Trisakti, Semanggi I, Semanggi II dan kasus-kasus pelanggaran berat HAM masa lalu lainnya. Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki kedekatan emosional dan tanggung jawab terhadap pengabdian masyarakat, saya rasa hal itu merupakan suatu kewajiban yang tidak berlebihan. Baca lebih lanjut

Tangisan Papua

Tag

,

“Apa kamu tahu tempat disembunyikannya senjata?!”

 “Di Sanoba”

”Dapatkah kamu menunjukkan pada saya?!”

“Cepat!di daerah mana di Sanoba?Namanya, namanya!!”

“Tabuni…”

“Dimana-dimana? Di Sanoba?”

“Tidak tahu..”

“Dirumah?”

“Tidak”

“Harus tahu! Sanoba dimana? Siapa temanmu? Kalau tidak kau akan mati kami bakar!Satu teman!Dimana dia yang bawa senjata ke sekitar sini?!”

“Bakar!!Bakar!!”

Dialog diatas merupakan cuplikan video penyiksaan yang dilakukan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap Pendeta Kindeman Gire. Saya menyaksikan kembali video tersebut pada 29 oktober 2010 saat membuka berita Aljazeera English di youtube. Alasan penyiksaan tersebut untuk mendapat informasi keberadaan gudang senjata dan Tabuni yang merupakan anggota OPM (Organisasi Papua Merdeka). Baca lebih lanjut

Perempuan Tionghoa dan Tragedi Mei 98

Tag

,

Kekerasan kerap mewarnai sejarah Indonesia, seperti peristiwa Tragedi Mei ’98 ketika banyak terjadi tindakan anarkis seperti penjarahan dan pembakaran toko-toko di berbagai wilayah Indonesia, khususnya wilayah Jakarta. Kekerasan seksual juga dialami oleh perempuan keturunan etnis Tionghoa pada saat itu, hingga 12 tahun setelah peristiwa tersebut belum ada tindakan tegas pemerintah untuk mengungkap kebenaran.

Aksi kekerasan dan penjarahan yang menimpa mayoritas komunitas Tionghoa bukanlah konflik antar etnis, melainkan sebagai akibat dari situasi politik Indonesia pada saat itu. Indonesia berada di bawah rezim Orde Baru yang memiliki tujuan utama pembangunan Indonesia di segala bidang. Dalam usaha pembangunan tersebut, Presiden Soeharto mengandalkan pinjaman dana dari luar negeri, seperti lembaga keuangan dunia International Monetary Fund (IMF) yang merupakan gabungan beberapa negara untuk memberi bantuan dana kepada negara-negara berkembang. Sehingga, ketika tahun 1997 terjadi krisis ekonomi global, Indonesia mengalami defisit dan tidak mampu membayar hutang negara yang mencapai US$ 2,4 juta kepada IMF. Baca lebih lanjut