Tag

,

“Ini kursinya Wawan,” ujar Ibu Sumarsih sembari menyiapkan satu kursi di meja makan. “Walaupun Wawan sudah tiada, kami selalu menyediakan piring lengkap dengan sendok dan garpu beserta gelasnya di meja makan ini. Tiap sarapan dan makan malam, kami selalu menyiapkan piring seperti tadi. Ketika kami pergi bekerja pun, piring hanya kami telungkupkan. Siapa tahu, Wawan pulang ke rumah dan ingin makan… Jadi, Ia tinggal menggunakan piring yang tersedia lalu mengambil nasi serta lauk dan sayur yang tersedia di meja makan ini,” demikian tutur Ibu Sumarsih sembari makan malam bersama dengan suaminya, Arief Priyadi, dan putri bungsunya, Benedicta Raosalia Irma Normaningsih seperti yang terlihat dalam video “9808 Antologi 10 Tahun Reformasi” karya  dari Prima Rusdi, Edwin dan Hafiz di tahun 2008.

Terhitung sudah lebih dari sepuluh tahun sejak peristiwa berdarah Semanggi I itu terjadi. Keluarga Wawan atau Bernardus Realino Norma Irawan masih memperjuangkan keadilan. Sumarsih beserta keluarga dan beberapa kelompok terkait memperjuangkan bersama perubahan manusia Indonesia.

Selain Wawan, korban lain yang tewas pada 13 November 1998 adalah Engkus Kurnadi, Heru Sudibyo, Lukman Firdaus, Sigit Prasetyo, dan Teddy Wardani Kusuma. Sebelumnya, pada 12 Mei 1998, keempat mahasiswa Trisakti yakni Elang Mulya, Hafidin Royan, Hendriawan Sie, dan Hery Hartanto menjadi korban. Apakah setelah lebih dari sepuluh tahun kejadian tersebut berlangsung, kita melupakannya begitu saja?

Milan Kundera, novelis dari Ceko, mengatakan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa (The Book of Laughter and Forgetting, 1979). Agar kita tidak lupa, mari kita lihat lagi bagaimana Ibu Sumarsih bertemu dengan tubuh anaknya yang terbujur kaku dan dingin seperti yang ditulis Vincentia Hanni dalam Tragedi Semanggi, di Bawah Sepatu Lars dan Permainan Hukum  (Kompas, 12/11/2004). Di ruang jenazah Rumah Sakit Jakarta, sang Ibu menyentuh perut putranya serta berkata, “Aduh, Wan, perutmu tipis sekali. Pasti kamu kelaparan ya, Nak?” Sembari menangis, Ia meraba dada putra sulungnya yang tertembak.

Nuansa kesedihan masih dirasakan oleh ayah Wawan yang walau lelah tetap bekerja keras menuntut keadilan. “Yang tidak waras, mereka berani menendang kami yang orang tua ini, tanpa ampun. Kalau tidak ada yang menyuruh mana mungkin mereka melakukan itu,” demikian ujar Arief Priyadi, Ayah dari Wawan saat Ia digebuk petugas saat demo memperjuangkan keadilan bagi anaknya di istana Negara dalam situs ELSAM (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat).

 Manusia yang menjadi serigala bagi sesamanya

Potret pengalaman Ibu Sumarsih diatas membawa penulis sampai pada pertanyaan tentang manusia Indonesia. Mengapa tragedi berdarah itu sampai terjadi? Sikap pelaku dan korban dari salah satu pelanggaran HAM berat di Indonesia amat menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Keduanya menampilkan profil berbeda. Yang satu lebih menampilkan wajah yang narsis egois sedangkan yang satu memancarkan wajah humanis altruis.

Thomas Hobbes, filsuf Inggris di abad 16 mengatakan bahwa manusia merupakan serigala bagi manusia yang lain (homo homini lupus). Baginya, kodrat manusia bersifat individual, egois dan mau menangnya sendiri (Leviathan, 1982). Untuk itulah manusia terpaksa mengadakan kontrak sosial demi kepentingan dan keselamatan dirinya masing-masing.

Wawan, mahasiswa Atma Jaya Jakarta yang berdemonstrasi menolak SI-MPR 1998, menyuarakan suara ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja negara. Kontrak sosial demi kepentingan dan keselamatan diri masyarakat sudah sekian lama ternodai oleh individualitas, egois dan keinginan serakah serta mau menangnya sendiri dalam diri mereka yang duduk nyaman di gedung-gedung pemerintahan. Individu koruptif yang bertindak bagaikan serigala mencakar sesamanya sendiri. Tak pandang bulu, mahasiswa yang berusaha menyuarakan jati diri mereka yang egois dan menang sendiri itu disikatnya pula.

Siapakah mereka yang egois dan menang sendiri itu? Dalam kasus peristiwa Semanggi I, penembakan terhadap mahasiswa de fakto dilakukan oleh aparat keamanan. Pada tanggal 13 November 1998 itu, Brimob dan kesatuan Kostrad berjaga dengan senjata api laras panjang, bertameng, menggunakan helm dan berpakaian siap tempur di sekitar Jembatan Semanggi (Tragedi Semanggi, 1998). Inilah serigala pertama. Aparat keamanan di lapangan berciri taat perintah, punya kemampuan dan perlengkapan khusus untuk ‘mengamankan’ situasi.

Kedua, Tragedi Semanggi I juga diwarnai oleh hadirnya sekelompok massa yang menamakan dirinya Pam Swakarsa. Mereka ini merupakan keamanan swasta, warga sipil yang dilatih militer secara singkat dan dibekali dengan senjata tajam dan bambu runcing. Pam Swakarsa dibentuk dengan tujuan mengamankan SI-MPR 1998. Kelompok ini berasal dari golongan Islam seperti Furkon, GPI, KISDI, Brigade Hizbullah BKUI, Liga Muslim, Remaja Masjid Islam Al-Furqon Bekasi, dan Mahasiswa Islam Bandung. Pam Swakarsa ini amat dipertanyakan keberadaannya. Karena berasal dari masyarakat sipil, muncul dugaan bahwa kelompok ini sengaja dibentuk untuk menciptakan bentrok horisontal antara Islam dan mahasiswa. Sebuah siasat adu domba demi mengalihkan konflik vertikal antara rakyat dan pemerintah.

Pam Swakarsa ini berciri provokatif. Melalui saksi mata, bentrokan senjata antara massa dengan pihak keamanan terjadi karena aksi provokatif Pam Swakarsa ini. Mereka mengejek dan melempari apa saja ke arah aparat keamanan. Tak heranlah kerusuhan terjadi dan pihak keamanan pun bertindak. Dengan demikian, Pam Swakarsa menjadi serigala kedua.

Terhadap serigala pertama dan kedua, kita perlu berefleksi lebih lanjut. Sebenarnya mereka ini adalah pihak kedua yang bertanggung jawab atas terjadinya tragedi ini. Budi Hardiman dalam buku Memahami Negativitas (2005) mengatakan bahwa orang yang berseragamkan militer dan berlogo Pam Swakarsa adalah orang baik-baik. Mereka ini tidak bisa bertindak selain patuh terhadap otoritas bahkan terhadap lingkungan sosialnya. Itulah kondisi yang memaksa mereka mengacuhkan hati nurani dan lebih mementingkan konformisme demi keselamatan dirinya. Budi Hardiman pun mengatakan bahwa orang baik-baik ini tidak kurang berbahayanya dengan penguasa yang harusnya menggunakan nurani mereka.

Ketiga, tokoh penting dari penanggung jawab kejadian ini adalah pemimpin dari aparat keamanan. Mengapa demikian? Sistem organisasi militer selalu berdasarkan ketaatan terhadap pemimpinnya. Jika petinggi memerintah A maka anak buahnya harus melakukan A. Pemimpin militerlah yang memiliki peran untuk merancang strategi atau rencana ‘keamanan’. Kehadiran Pam Swakarsa perlu dipertanyakan, mengapa warga sipil yang mengamankan SI-MPR? Mengapa bukan ABRI sendiri? Pertanyaan ini mesti dijawab oleh komando ABRI yakni Menhankam (Menteri Pertahanan dan Keamanan) sekaligus Pangab (Panglima Besar ABRI) yang waktu itu dipegang Jenderal TNI Wiranto. Ia merupakan salah satu dari panglima besar serigalanya Hobbes di Indonesia 1998.

Peristiwa Semanggi I, 13 November 1998, terjadi akibat bentrok antara pihak keamanan dengan massa. Mahasiswa turun ke jalan, melakukan demonstrasi dan orasi. Tujuannya adalah menolak Sidang Istimewa MPR 1998 serta menentang Dwifungsi ABRI/TNI. Walaupun Soeharto sudah turun dari jabatannya sebagai Presiden. Ia menyerahkan secara sepihak tapuk kepemimpinan Presiden itu kepada Habibie. Mahasiswa tidak percaya dan tidak menyetujui pemerintahan Habibie beserta MPR/DPR 1998.

Manusia dengan ciri seperti ketiga pihak diatas menggunakan cara kekerasan untuk mengutamakan kepentingan mereka semata. Manusia yang hanya tahu dirinya sendiri dan menutup mata terhadap kesulitan orang lain.

 Manusia yang menjadi teman bagi sesamanya

Driyarkara, seorang filsuf Indonesia, memodifikasi ungkapan Hobbes dengan manusia sebagai sahabat bagi sesamanya (homo homini socius). Dalam profil manusia seperti inilah Ibu Sumarsih beserta keluarga dan korban pelanggaran HAM lain memaknai hidupnya.

Para keluarga korban penembakan di tahun 1998 berdiri dalam keheningan menatap Istana Negara. Dengan seragam hitam-hitam, berpayung hitam, serta beberapa slogan kecil, para keluarga menuntut pemerintah untuk mengusut kasus pelanggaran HAM yang menimpa keluarga mereka.

Aksi itu hanya diam, hening, sunyi, dan tanpa kata. Di hadapan mereka berdiri megah gedung istana negara. Di tempat itulah janji-janji menunggu untuk dibuktikan. Slogan kampanye untuk mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM yang belum menemukan titik terang.

Aksi Kamisan sudah berlangsung sejak 19 April 2007. Inilah kampanye terus menerus yang digagas oleh Usman Hamid dari KontraS dan Rusdi Marpaung dari Imparsial. Gerakan para ibu di Argentina pada tahun 1977 di depan Plaza de Mayo menginspirasi Aksi Kamisan ini. Mereka lebih dikenal dengan nama Asosiasi Ibu-Ibu Plaza de Mayo yang mendesak junta militer Argentina yang berkuasa saat itu terhadap penghilangan dan pembunuhan anak-anak mereka. Sudah lebih dari 30 tahun para ibu berkerudung putih sebagai dress code melakukan aksi itu.

Aksi Kamisan sendiri sudah berjalan tiga tahun lebih. Mereka yang menghadiri aksi ini adalah korban, keluarga korban, aktivis, dan terbuka bagi siapa pun yang solider dengan perjuangan keadilan atas penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. Apa yang mereka lakukan? Diam dan mengirimkan surat kepada Presiden yang isinya segera diselesaikannya permasalahan HAM berat seperti peristiwa 65, Talangsari, Tanjungpriok, 27 Juli 1996, Penculikan, Trisakti, Mei 1998, Semanggi I, Semanggi II, kasus Munir, serta pelanggaran HAM yang terjadi aktual di Indonesia.

Ibu Sumarsih menyatakan keinginannya untuk selalu memelihara harapan, sekecil apapun, supaya dapat bertahan dan meneruskan perjuangan. Perjuangan ini mempunyai makna dan menjadi simbol kemanusiaan supaya pelanggaran yang sama tidak terulang. Wajah humanis, manusia yang berbagi, tergambar dari kesetiaannya berbaju dan berpayung hitam setiap kamis itu (Tempo Interaktif, 10 November 2004).

Dalam keheningan itu pula lantunan doa didaraskan Ibu Sumarsih yang direkam dalam salah satu video dalam “9808 Antologi 10 Tahun Reformasi”. Di hadapan makam putranya itu, si Ibunda berdoa: “Tuhan Yesus Kristus hakim yang adil, bimbinglah dan tuntunlah kami dalam kasus yang menimpa Wawan. Bawalah perkara penembakan tersebut ke hadapan pengadilan, sehingga mereka yang terlibat di dalamnya dapat merasakan kasih dan cintaMu. Amin.”

Selain setia dalam keheningan tiap kamis dihadapan istana negara, Ibu Sumarsih menggunakan sarana doa untuk menyuarakan keadilan itu. Suara yang mengajak kita untuk turut ikut ambil bagian, bersimpati dan berempati dalam menyuarakan hak yang kita miliki. Bahkan dalam hening pun ajakan untuk bertransformasi dari manusia serigala menjadi manusia yang sesungguhnya itu terus menerus bergema dalam relung hati kecil kita.

 Penulis: Gerardus H. Panamokta (STF Dryarkara),Juara Harapan III