Tag

,

“Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir.

Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biarpun dia itu sarjana.” (Pramoedya Ananta Toer)

Subuh telah sampai, ketika aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan menyisipkan badanku di bawah selimut. Semalaman ini aku menginap di selasar Lantai 2 salah satu gedung di Wisma Hijau, Cimanggis tempat aku mengikuti Lokalatih Penulisan Esai “Kekerasan, Perdamaian dan Keindonesiaan”. Sepanjang malam, aku mengerahkan seluruh konsentrasiku untuk menyelesaikan satu esai mengenai Tragedi Talangsari.

Ku matikan Laptop. Kertas-kertas berserakan di sekitarku. Sepatuku terletak 1,5 meter jauhnya dari lantai tempatku duduk. Tak jauh dari sepatuku, sebuah gelas bening yang kosong ditemani kertas minyak bekas makananku tadi, berserak berantakan. Ku rapikan itu semua.

Terdengar suara seseorang berbicara, “Bagaimana sih pemerintah, masa’ masalah di Mentawai saja baru tahu”. Reflek aku menengok ke bawah, ke arah pos satpam dimana suara itu berasal. Rupanya Tukang Koran sudah bekerja sepagi ini.

Aku menyusuri tangga menuju lantai dasar yang terasa begitu sepi. Sesampai di sana, aku menoleh ke atas. Langit sudah terlihat biru. Pikiranku segera melayang, membayangkan apa yang terjadi di Dusun Talangsari, Lampung Selatan sesubuh ini 21 tahun silam. Ketika adzan subuh belum lama berkumandang, mereka dikejutkan dengan penyerangan aparat militer yang datang terlalu pagi. Aku mencoba memasuki dan menyelami keadaan yang mereka alami ketika itu.

Aku telah sampai di depan pintu tempatku menginap. Rosyid salah seorang sahabat dari Universitas Paramadina yang juga merupakan peserta Lokalatih, sedang duduk di bangku depan kamarku menonton Televisi. “Sudah bangun?” sambil tersenyum aku bertanya. Rosyid ikut tersenyum, “Sudah,” jawabnya sebelum aku masuk kamar.

Dengan mata mengantuk, lamat-lamat kupandangi kasurku. ’Percayalah kawan, kasur tampak begitu indah di saat seperti ini.’ Tanpa buang waktu, segera kusambut kasur-selimut dengan begitu mesra.

Setengah tengkurap, aku berusaha tidur. Mataku telah terpejam. Terasa sangat berat setelah dipaksa melek sehari-semalam. Tapi pikiranku tak jua mau tidur, Ia terus mengembara, menghadirkan rentetan pengalamanku selama menekuni penulisan Esai mengenai Talangsari beberapa bulan belakangan ini.

Mungkin sebagian darimu bertanya-tanya, apa itu Tragedi Talangsari dan apa hubunganku dengan Tragedi ini? Tidak, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Dusun bernama Talangsari di Lampung Selatan yang pada tahun 1989 mendadak terkenal, karena konon terlibat dalam kasus pemberontakan. Ya, pemberontakan. Itu istilah pemerintah. Aku sendiri enggan menggunakan istilah itu, karena bentuk dan bukti konkrit pemberontakan di sana tidak cukup jelas.

Oke, Kau sudah mulai tahu kan, apa itu Tragedi Talangsari? Tepat sekali. Dini hari tanggal 7 Februari 1989, aparat militer menyerang Dusun Talangsari. Aparat militer, katanya, menumpas gerakan pemberontakan yang dilakukan sekelompok Jama’ah yang dipimpin Warsidi.

Sayang sekali, aku tak bisa mengenalkanmu pada Warsidi. Karena Beliau menjadi salah seorang yang tewas dalam tragedi ini. Bersama Beliau, 246 orang lainnya juga tewas. Ini jumlah korban versi Komite Smalam (Komite Solidaritas Mahasiswa Lampung). Versi pemerintah lain lagi. Pemerintah menyebutkan jumlah korban hanya 27 orang. Banyak juga ya selisihnya, siapa yang sesungguhnya tak mahir berhitung?

Ah.., aku semakin tak bisa tidur. Aku duduk, kusingkap sedikit gorden. Di luar ternyata sudah terang. Pagi benar-benar telah datang. Aku putuskan kembali mengambil Laptop dan menuliskan cerita ini untukmu.

Awal Juli 2010 lalu, aku adalah seorang mahasiswi Psikologi tingkat 4 yang sama sekali tak tahu apa itu tragedi Talangsari. Sampai suatu ketika aku melihat satu pamflet undangan mengikuti Festival Esai ’Kekerasan, Perdamaian dan Keindonesiaan’. Di sana aku menemukan sebuah kata asing, yakni Tragedi Talangsari.

Lalu kenapa aku ingin menuliskan esai tentang tragedi ini? Pendeknya, aku ingin tahu. Dan aku terheran-heran ketika mendapati tragedi setragis ini tidak diketahui banyak orang. Tak sedikit pun disinggung dalam buku Sejarah yang dipelajari di bangku sekolah.

Lihat diriku, kawan! Aku ini contoh nyata, ada rakyat yang tidak mengetahui apa itu Tragedi Talangsari. Sampai akhirnya aku menemukan banyak kontroversi di dalamnya. Dan harus memahami usaha-usaha mengubur kasus ini dalam-dalam. Ada apa dengan pemberitaan dan sejarah Indonesia?

Sayangnya, pertengahan Juli 2010, aku menjadi semakin bingung dan merasa tidak tahu. Aneh ya?

Aku membaca banyak sekali esai, berita, artikel atau bentuk tulisan lain, termasuk buku. Tapi, semua tulisan ini ternyata tidak satu nada. Banyak di antaranya yang saling berlawanan. Berita yang satu tidak sejalan dengan berita yang lain. Esai yang satu tidak setuju dengan esai yang lain. Lagi-lagi muncul pertanyaan di benakku, ada apa di balik semua ini?

Awal Agustus 2010, aku sudah mengklasifikasikan dua nada besar dari seluruh tulisan itu. Nada pertama, pembicaraan soal tragedi Talangsari seyogyanya ditutup saja. Alasannya, ada yang menyebutkan, ini bukan pelanggaran HAM. Ada yang membawa alasan, korban dan pelaku sudah melakukan perdamaian, yang mereka sebut sebagai Ishlah. Nada kedua menyebutkan bahwa kejadian ini merupakan pelanggaran berat HAM dan wajib ditindak pidana, walaupun telah disepakati Ishlah sekalipun.

Kamarku masih sepi, dua sahabat sekamarku masih tidur. Yang terdengar hanya suara ketukan jemariku di atas keyboard Laptop pinjaman yang menjerit, seolah berteriak, ’Tolong jangan tekan aku terlalu keras” Tapi coba kau dengar lebih seksama. Tidakkah terdengar suara gemuruh di dadaku? Mendekatlah ke sini. Perhatikan bagaimana mataku berkaca-kaca meresapi kepiluan tragedi yang berusia lebih muda 9 bulan dari usiaku.

Ah, airmataku menetes. Mohon maaf bila aku terlalu sentimentil dalam menceritakan tragedi ini. Aku melirik jam, pukul 06.23 WIB. Bila hari ini aku berada di Dusun Talangsari dalam situasi 7 Februari 1989…, aku tak kan mampu menulis cerita ini kepadamu…, lantaran suasana di sana pasti sedang sangat genting. Mereka diberondong senjata api. Sementara, perlengkapan mereka tidak memadai untuk melawan. Mereka yang tidak tertembak mati, dibakar hidup-hidup dalam pondokan mereka sendiri. Ngerinya, aparat memaksa korban anak-anak yang membakar pondokan itu.

Ada perih di sudut hatiku, membayangkan bagaimana anak ini sangat tertekan ketika dipaksa membakar pondokan yang Ia ketahui berisi orang-orang dekatnya. Tentu Ia tidak mau membakar handai taulan, sahabat dan teman-temannya sendiri. Ia dipaksa dan diancam agar membakar. Setelah membakar, Ia mendengar sendiri kepiluan jerit tangis saudara-saudaranya yang terbakar api. Dan api itu berasal dari tangannya. Tentu benar-benar menyakitkan dan menggores luka yang amat dalam di hatinya. Apa yang kira-kira berkecamuk di dadanya menyaksikan dan mendengarkan semua itu? Ingin rasanya aku bertemu anak ini, menjabat tangannya, mendengarkan kisahnya, dan menguatkan hatinya.

Sebentar, aku tak kuat melanjutkan cerita si anak malang ini. Dadaku sesak meresapi kengerian, ketakutan dan tekanan yang dihadapinya. Sekujur tubuhku tergugu menumpahkan haru.

Bagaimana dengan nasib korban yang selamat?

Saudara-saudara kita itu, hingga kini masih hidup dalam keterbelakangan. Listrik belum masuk desa mereka, padahal desa-desa tetangganya sudah mendapatkan listrik. Pun setelah peristiwa itu lewat 21 tahun. Begitu juga jalan desa di sana, masih berlumpur karena tak beraspal. Mereka sungguh termiskinkan oleh negara,” tutur Krisbiantoro, seorang pendamping korban dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), dalam salah satu artikel yang aku baca dari Tempointeraktif.com (6 Februari 2010)

Kenapa hal ini terjadi? Belum cukupkah siksaan sosial yang harus mereka alami dengan hidup dalam stigma negatif terus menghantui hari-hari mereka? Oh iya! Aku belum cerita bagaimana media massa mewartakan kejadian ini ya?

Pemberitaan di media massa ketika itu di-setting penguasa untuk selalu menyalahkan korban dan membenarkan tindakan pemerintah. Ketika Tragedi ini baru saja berkecamuk, media massa segera memuat propaganda yang menyudutkan Jama’ah Warsidi, sehingga stigma negatif langsung menempel pada mereka. Sedangkan, Kolonel Hendropriyono (pada waktu itu adalah Komandan Korem 043 Garuda Hitam, yang memimpin penyerbuan ke Talangsari) menjadi pahlawan dan dianggap berhasil menumpas kejahatan. Pemerintah saat itu, berhasil menggunakan media untuk membangun pendapat publik yang berpihak pada tindakannya.

“Pangab Jendral TNI Try Sutrisno menegaskan, dia membenarkan setiap tindakan tegas oleh aparat keamanan atas setiap bentuk kegiatan yang mengguncang stabilitas…” (Kompas, 10 Februari 1989). Itu salah satu pernyataan pembenaran atas tindakan aparat saat itu.

Kawan, sejujurnya aku tidak sependapat dengan pernyataan Bapak Try Sutrisno ini. Bila tindakan tegas yang dimaksudkannya adalah membantai atau menyerang, seperti yang dilakukan terhadap Jama’ah Warsidi, itu sama saja menunjukkan pada Dunia dan diri kita sendiri bahwa Negara ini memiliki hukum yang brutal dan primitif.

Lagi pula, di luar persoalan hukum itu tadi, hati nuraniku mengatakan, tidak ada alasan pembenaran apapun terhadap tindakan tidak ‘memanusiakan manusia’. Katakanlah, Jama’ah Warsidi ini bersalah. Lalu, apakah selanjutnya kita menjadi boleh untuk bertindak sewenang-wenang, membantai dan menyakiti mereka? Memangnya kalau ada sekelompok orang berbeda pendapat, lalu Ia tak lagi dihargai sebagai manusia dan kita diperbolehkan untuk membantainya?

Aku jadi teringat perihal ishlah. Kau sudah tahu Ishlah kan? Usaha damai ini dilakukan beberapa korban dengan Hendropriyono. Aku setuju jika ada pihak yang berupaya untuk berdamai, tapi aku tidak setuju bila upaya Ishlah ini lantas menjadi cara untuk membebaskan beberapa pihak dari jeratan hukum dan upaya untuk menutup kasus ini. Ishlah memang niatan yang mulia tetapi proses hukum tetap harus dijalankan untuk memberikan kepastian lebih kuat.

Upaya menghalangi pengungkapan kebenaran tragedi ini aku lihat sebagai hal yang mengerikan. Itu sama saja mengubur hak-hak korban yang sejauh ini belum terpenuhi. Mereka hingga kini masih hidup dengan stigma negatif yang menempel erat dan dengan segala kerugian yang mereka pikul sendiri akibat dari tragedi ini.

Ketakutan lebih besar lagi menyeruak di benakku seiring pagi yang terus beranjak naik. Menutup kasus ini dan melupakannya, sama saja membuka peluang untuk terjadinya pengulangan peristiwa serupa. Dengan mengubur kasus ini, kita tidak bisa belajar dari apa yang terjadi sebelumnya. Apakah kita rela, sejarah bangsa kita ternodai lagi dengan peristiwa yang menginjak-injak Hak Asasi Manusia? Apakah kita akan diam, sejarah bangsa kita dikotori oleh tindakan-tindakan meremehkan kemanusiaan?

Ah, satu hal lagi. Aku harus menyampaikannya sebelum aku tak kuat lagi menulis dan harus tidur. Pernahkah kau mengetahui website talangsari.com? 28 Oktober 2010 lalu, aku menemukan website ini. ”Talangsari.com adalah situs tempat berhimpun komunitas, warga masyarakat yang memiliki perhatian pada kasus Talangsari 1989, sebagai bentuk diskursus untuk memberi kontribusi pada perjalanan sejarah Bangsa. Di sini bergabung para keluarga korban, peneliti sosial, akademisi dan siapa saja yang memiliki perhatian dan simpati pada dampak dari Peristiwa Talangsari”, begitu website ini memperkenalkan diri.

Kata pertama yang muncul di benakku, ’Salut, ada pihak yang begitu pedulinya sampai membuatkan website ini.’ Namun kemudian, aku merasa tertipu dengan kekaguman awal itu, karena yang aku temukan selanjutnya pada website talangsari.com adalah kliping-kliping berita koran yang membangun persepsi bahwa kasus ini bukanlah pelanggaran HAM, melainkan sejarah heroik bangsa Indonesia dalam menumpas pemberontakan. Lucunya lagi, sebagian besar kliping berita yang disuguhkan adalah berita tahun 1989-1990an, yang sudah basi dan jelas-jelas merupakan masa dimana Pemerintah sedang berusaha mencari pembenaran atas tindakannya.

Bahkan mereka juga mengatakan, “Hati-Hati Fitnah KontraS dan Komite Smalam”. Artikel ini seolah berargumen bahwa KontraS dan Komite Smalam telah menyebar fitnah, karena kedua lembaga ini mengklaim bahwa kasus Talangsari adalah Pelanggaran HAM. Dan hebatnya, bila kita menuliskan kata ‘talangsari’ di Om Google, hampir selalu hasil pertama yang muncul adalah dari talangsari.com.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku jadi makin bingung. Tetapi aku pasti yakin bahwa orang yang telah dilanggar Hak Asasi Manusianya patut mendapatkan pemulihan dan mereka yang melakukan pelanggaran HAM harus menerima hukuman yang setimpal. Semoga semua kian terang. Dan jika pengembaraan ingatanku sudah lebih jelas, maka aku akan tidur lebih pulas.

Sebagai doa menjelang tidur, aku berharap, kita semua tetap semangat mengungkap kebenaran, memperjuangkan keadilan dan tetap berpihak pada cara-cara yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Meski sulit, paling tidak kita bisa mengatakan pada diri kita sendiri,  “Kita telah melawan, Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya..” (Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer)

Penulis :  Rahmah Amalyah (Universitas Islam Azzahra), Juara Harapan IV tingkat mahasiswa