Tag

,

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih/ Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih // Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ didjejer-djejer diunting pada didasar/ didjejer-djejer diunting pada didasar/emake djebeng tuku gendjer wadahi etas/ gendjer-gendjer saiki arep diolah//

 14 Maret 2009 Tempo memberitakan puluhan lelaki bercadar dan berseragam ala militer mendatangi sebuah stasiun radio di Surakarta, Jawa Tengah. Kelompok yang menamakan diri Corp Hizbullah divisi Sunan Bonang itu menuntut pemiliknya minta maaf pada masyarakat, terutama umat Islam karena memutar lagu Genjer-genjer dalam sebuah kuis. Mereka menilai radio tersebut sengaja memutar agar semangat komunisme kembali muncul karena itu lagu PKI.

Lagu macam apa Genjer-genjer itu, sampai-sampai sebuah radio digeruduk orang?

Genjer-genjer diciptakan seniman Banyuwangi, Muhammad Arief pada tahun 1942. Jauh sebelum Gerakan 30 September. Lagu ini lahir dari keprihatinan Arief melihat krisis pangan di Banyuwangi akibat penjajahan Jepang, sampai-sampai masyarakat memakan genjer (limnocharis flava). Genjer adalah tanaman sejenis enceng gondok, hidup di genangan air dan sering dianggap tanaman pengganggu. Padahal sebelum pendudukan Jepang, Banyuwangi adalah wilayah surplus bahan makanan.

Genjer-genjer sangat populer di era 1960an. Nadanya lembut dan menyuarakan penderitaan rakyat dihapal banyak orang. Apalagi saat itu kondisi ekonomi tidak stabil dan bahan makanan mahal, tak jauh beda dengan masa Jepang. Mereka yang bergabung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) suka melagukan sebab penciptanya, Arief, kebetulan bergiat disana. Bersama lagu-lagu rakyat lain, seperti Anti Nekolim, Toek Paduka Jang Moelia. Genjer-Genjer diterbitkan oleh bagian kebudayaan Central Committee (CC) PKI, awal 1965.

Tapi Manteb Sudharsono, dalang wayang kulit ternama, mengatakan bukan hanya PKI yang mempopulerkannya. Saat itu, dalang legendaris Ki Nartosabdo sering menyanyikannya dalam pementasan karena lagu itu sangat populer. Padahal Nartosabdo adalah seniman Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang bernaung di bawah PNI. Saat itu Manteb adalah murib Nartosabdo dan sering mengikuti pementasannya di berbagai daerah.

Genjer-genjer, seperti ditulis Fransisca R. Susanti dalam Terseret Genjer (2008), merupakan lagu lama yang dipentaskan Lekra Jawa Timur lewat kelompok Gentasuri Pimpinan Made Yase saat Njoto, Wakil Ketua II Partai Komunis Indonesia (PKI) berkunjung ke Banyuwangi, 1962. Njoto terkesima. Ia memperkirakan Genjer-genjer bakal populer. Syairnya sangat menyentuh, menggambarkan penderitaan kaum miskin menyiasati kelaparan di masa Jepang. Perkiraan Njoto tak meleset, di Jakarta lagu ini diaransemen ulang oleh M. Arief dan dinyanyikan Bing Slamet. Genjer-genjer pun meledak di pasaran. Sampai-sampai RRI dan TVRI memutarnya berulang kali dalam sehari.

Tapi, nasib Genjer-genjer berubah setelah peristiwa G30S. Ia menjadi semacam lagu pembantaian. Petaka itu bermula saat tujuh perwira Angkatan Darat diculik dan dikubur di lubang buaya. Soeharto menyebutnya “kudeta PKI” untuk menggulingkan Sukarno.

Menurut John Roosa dalam buku Dalih Pembunuhan Massal kudeta ini adalah rekayasa kelompok yang menginginkan PKI dan Sukarno hancur. Mereka adalah kelompok perwira sayap kanan (anti PKI) yang didukung negara Blok Barat, terutama Inggris dan Amerika. Mereka “mengompori” PKI untuk segera kudeta dengan isu Dewan Jenderal. Akhirnya PKI terjebak melakukan kudeta.

Dengan kudeta ini, tentara punya alasan menghancurkan PKI sampai akarnya. Lebih dari 500 ribu orang dibantai oleh tentara dan kelompok sipil anti-komunis. Bahkan, menurut Sarwo Edhy Wibowo, yang saat itu menjabat Komandan RPKAD, korban tewas mencapai 3 juta orang. (Bedjo Untung, Pembantaian Massal dalam Memori, 2009).

 Anehnya, aparat keamanan tidak melakukan pencegahan terhadap pembantaian ilegal kelompok-kelompok sipil ini. Aparat melakukan pembiaran. Beberapa peneliti, seperti Asvi Warman Adam dan Budiawan, mencurigai aksi kelompok-kelompok itu adalah hasil provokasi sekaligus difasilitasi Tentara. (Asvi, Rekonsiliasi Model Blitar Selatan, Tempo, 29 Agustus 2003).

Mereka yang tak dibunuh mengalami penderitaan; disiksa dan dipenjara. KTP mereka ditandai ET alias Eks Tahanan Politik. Tanda ini menjadi label negatif dan menghancurkan akses sosial mereka.

Genjer-genjer dan Gerwani

Dalam sejarah versi Suharto, para jenderal yang diculik disambut Gerwani dengan menyilet, mencongkel mata serta memotong penis. Sebelumnya mereka berpesta seks, menari harum bunga dan bernyanyi Genjer-genjer. Diorama di monumen Pancasila Sakti menceritakan itu. Gambaran itu juga bisa dicermati dalam koran yang terbit setelah G30S, terutama koran tentara, Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha.

Di antaranya “Sukarelawan-sukarelawan Gerwani telah bermain-main dengan para jenderal, dengan menggosok-gosok kemaluan mereka ke kemaluan sendiri”(Angkatan Bersendjata, 11 Oktober), “…Gerwani berparas cantik yang telah melacurkan diri dan mendekati pimpinan-pimpinan partai lain untuk membujuk mereka agar mendukung program PKI.”(Berita Yudha, 4 November).

Selain itu, ada koran-koran sipil yang ikut-ikutan menyebarkan berita tak benar itu. Diantaranya Duta Masyarakat dan Sinar Harapan. Akibat pemberitaan itu muncul stigma bejat pada Gerwani. (Komnas Perempuan, Mendengarkan suara Perempuan Korban Peristiwa 1965, 2007).

Paring Waluyo Utomo dalam Genjer-Genjer dan Stigmatisasi Komunis, mengatakan beriringan dengan pemberitaan itu, beberapa kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) menyanyikan Genjer-genjer dengan syair yang berbeda. Lagu plesetan itu juga dipulikasikan majalah KAMI. KAMI adalah motor aksi demo pembubaran PKI. Didirikan 25 Oktober 1965, KAMI aktif dalam “pembersihan” unsur-unsur PKI, termasuk menuduh Gerwani menyanyikan lagu itu saat penyiksaan jenderal.

Saya mencurigai KAMI “ditunggangi” tentara tanpa sadar. Seperti terlihat dalam laporan Pelita, 14 Oktober 2010, Detik-Detik Di Sekitar 30 September 1965 Bagian II, diceritakan rapat pembentukan KAMI diantaranya dilakukan di Markas Kostrad, Kantor Suharto, pada 2 Oktober. Adalah Subhan ZE, Pimpinan Front Pancasila/KAP Gestapu (Komando Aksi pengganyangan G30S/PKI) yang mengajak tokoh-tokoh mahasiswa dari HMI, PMKRI, Pemuda Muhammadiyah, PII, Gasbindo dan lain-lain, rapat di sana. Sebelumnya, mereka ikut dalam pernyataan bersama pengutukan PKI di Merdeka Barat, atas prakarsa Ketua GV Koti, Brigjen Soetjipto, SH.

Syair plesetan ini secara eksplisit menceritakan Gerwani berandil dalam penculikan jenderal. Akibatnya, meminjam istilah Fransisca R. Susanti, Genjer-genjer seolah-olah merupakan lagu pembantaian yang disiapkan sejak lama oleh kader PKI. Lebih lanjut, Setiawan H dalam Kamus Gestok mengatakan lagu ini dianggap mengandung isyarat rencana G30S, dengan perubahan bait dari Genjer-Genjer neng kedokhan pating keleler (Genjer-genjer di sawah berhamparan) menjadi Jendrael-Jendral esuk-esuk pating keleler (Jenderal-jenderal pagi-pagi buta berhamparan).

Jadilah, tak ada yang berani lagi menyanyikan Genjer-genjer karena tak mau dikaitkan PKI.

Monopoli berita dan plesetan itu merupakan satu rangkaian yang dibuat untuk menyerang PKI. Cara propaganda militer membenarkan tindakan penumpasan gerakan itu. Buktinya, dokumen otopsi yang “terbuka” belakangan menolaknya.

Dokumen ini ditemukan tanpa sengaja dalam berkas Mahmillub perkara Letnan Kolonel Heru Atmodjo oleh Indonesianis Benedict Anderson pada 1987. Dalam otopsi tersebut para jenderal dipastikan tewas oleh peluru dan bayonet. Dokumen ini sengaja tidak dipublikasi untuk melanggengkan stigma sadis Gerwani.

Sulami, Wakil Sekjen DPP Gerwani saat itu, mengaku sakit hati. Sulami mengatakan tak ada pesta di Lubang Buaya. Sukarelawan perempuan cuma memasak dan menjahit emblem. “Itu nari-nya di aula penjara Bukit Duri. Ya, tari genjer-genjer di tengah kehidupan porno. Jadi, disuruh nari-nari, lalu dipotreti dan difilmkan untuk pengadilan,..”ujarnya.

Sulami juga bersaksi bahwa ada pelacur dari Senen Jakarta yang buta huruf ditangkap patroli karena tanpa KTP. “Dia dipaksa mengaku Gerwani dan dalam BAP mengaku berada di Lubang Buaya dengan tugas memberi konsumsi seks pada 200 tentara. Ia bubuhkan cap jempol karena takut bedil,” kata Sulami pada Gamma, edisi 9 Oktober 2001.

Senada, para korban 65 yang saya temui di Panti Waluya Jati, Jakarta, 18 Juli 2010, antara lain Ibu Lestari, Sri Sulistiawan, Puji dan Thamrin, menyatakan itu fitnah. Lestari mengatakan, hal itu dibuktikan dengan otopsi. Tak ada pemotongan penis. Namun hasil otopsi itu tak dipublikasi dan diganti narasi palsu yang kini kita yakini kebenarannya.

Pertanyaannya kemudian mengapa Gerwani perlu digambarkan sesadis itu? Apakah tak cukup dimatikan atau dipenjara laiknya anggota PKI dan simpatisan ideologinya (BTI, SOBSI, LEKRA, CGMI, Pemuda  Rakyat)?

Pertama, saya melihat kampanye hitam di atas adalah bagian dari rencana sistematis penghancuran PKI, termasuk Gerwani. Hal ini bisa dilihat dari “pengontrolan” penerbitan. Tersebarnya berita kesadisan Gerwani bukanlah sasaran utama. Targetnya adalah membangkitkan kebencian dan amarah rakyat pada PKI. Gerwani adalah “simbol”  orang bejat yang mengancam kedaulatan negara. Itulah mengapa semua hal yang terkait dengannya tak boleh hidup. Menurut Asvi Warman Adham, stigma ini ampuh dalam penghancuran PKI. Logikanya kalau perempuan kiri saja sudah sedemikian bejat dan kejam apalagi kaum prianya. (Asvi, Bung Karno Dibunuh Tiga Kali, 2010:164)

Kedua, melumpuhkan kekuatan besar dan progresif Gerwani. Saat itu anggotanya 1,7 juta. Mereka bahu-membahu mendirikan Taman Kanak-kanak, memberantas buta huruf, penyadaran gender dan lainnya. Jika saat itu yang dibantai cuma unsur laki-laki dari PKI, BTI dan Pemuda Rakyat, maka Gerwani bisa jadi bom waktu. Gerwani tentu tidak rela suami-suami mereka yang kebanyakan anggota PKI dizalimi. Mereka tentu membuat “penyadaran sosial” terkait tragedi itu, paling tidak kepada anaknya. Untuk itu perlu stigma hitam. Agar masyarakat tak ada yang berani mengaku Gerwani, tak ada yang percaya Gerwani. Hal ini mungkin telah dipikirkan Tentara sejak awal.

Ketiga, stigma sadis itu terkait pemalsuan sejarah. Dalam sejarah Suharto stigma ini bermanfaat mempertahankan citra “tak beradab” dan tukang berkhianat bagi “gerbong” PKI. Semua itu terlepas dari pendapat yang menyatakan lagu plesetan itu bagian dari skenario Suharto mematikan kesadaran politik. Sebab lagu semacam Genjer-genjer dianggap bisa melahirkan kesadaran politik dan memicu perlawanan pada Suharto.

Satu fakta saat ini adalah kesuksesan Suharto menancapkan sejarah “resmi”-nya di alam bawah sadar Indonesia. Sejarah bertajuk G30S/PKI dijadikan dalih pembantaian massal sekaligus menasbihkan Suharto sebagai pahlawan. Mereka mengalami kelupaan akut (tepatnya tak tahu karena sengaja dibuat lupa) terhadap sejarah bangsanya.

Saat ini orang-orang hanya tahu kebenaran “yang salah”. Termasuk rekayasa ihwal Genjer-genjer yang dinyanyikan Gerwani sambil menari mengelilingi mayat para jenderal.  Sudah saatnya publik Indonesia lepas dari amnesia sejarah. Penyakit lupa ini harus segera diobati. Agar sejarah palsu buatan Suharto tak dianggap kitab suci.

 Penulis : Agus Hariyanto (IAIN Semarang), Juara II